pendidikan adalah
tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak
perlu ditegaskan bahwa
pendidikan hanya memiliki hak untuk menuntun hidup seseorang anak, seharusnya
tidak lebih, bahkan tidak boleh mendorong seorang anak menjadi sesuatu yang
mereka tidak inginkan.
dari sini, saya dapat
merasakan bahwa makna pendidikan sendiri telah bergeser dari arti harfiahnya.
saat mendapatkan pendidikan kita bukan dituntun tapi di arahkan untuk menjadi
sesuatu. saya tidak boleh ini, tidak boleh itu, saya salah, saya benar,
semuanya diarahkan, hingga saya merasa menjadi seperti robot. inikah pendidikan
yang seharusnya saya dapatkan? dari sini, saya mencoba menjawab pertanyaan dari
guru bahasa inggris saya. yang saya ketahui tentang pendidikan Indonesia
adalah, sistem pendidikan Indonesia membuat anak-anak Indonesia menjadi
robot-robot, menjadi manusia tanpa hasrat, tak punya kemauan untuk melakukan
yang dia inginkan. padahal nyatanya dalam UU Sisdiknas, sudah tertera
pasal-pasal yang jika terimplementasikan dengan baik, kata seorang teman,
Indonesia akan menjadi negara dengan sumber daya manusia terbaik. seperti bunyi
pasal 3 UU Sisdiknas dibawah ini,
bahwa pendidikan
nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa
yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab. (dalam UU No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3)
pak Anies Baswedan-pun
bernah berkata bahwa manusia terdidik, tercerahkan dan berintegritas
adalah asset utama Republik Indonesia. masa depan dibangun dengan mencerdaskan
manusianya. jika pendidikan Indonesia berhasil mendidik manusia-manusia
Indonesia menjadi SDM yang berkualitas, Indonesia pasti mengalahkan Jepang.
sayangnya sampai saat ini, permasalahan pendidikan Indonesia tidak sekedar di
implementasinya UU Sisdiknas di dunia pendidikan, tapi juga penyebaran
guru-guru yang berkualitas yang sadar tentang pendidikan yang baik itu seperti
apa juga tidak merata.
pernah saya mendengar
suatu kenyataan, ada seorang aktivis pendidikan, saya lupa siapa namanya,
berbicara di pemutara Film Tan Malaka dalam pemikirannya tentang pendidikan,
bahwa saat ini penyebaran guru-guru baik itu tidak sampai di seluruh Indonesia,
akibatnya sekolah berlabel unggulan mendapatkan guru-guru dan fasilitas yang
baik pula tentunya, sedangkan sekolah yang biasa-biasa saja akan mendapatkan
guru-guru yang biasa saja, dan sekolah berlabel ‘kurang’ juga akan mendapatkan
guru yang tidak sebaik guru di sekolah unggulannya. akibatnya, anak-anak yang
mampu masuk sekolah unggulan dengan tingkat IQ yang tinggi akan mendapatkan
pendidikan yang lebih baik dibandingkan anak-anak yang hanya mampu bersekolah
di tempat biasa.
harusnya pendidikan
Indonesia bisa jadi solusi atas tantangan-tantangan di negara ini, pendidikan
juga lah yang menjadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan, pendidikan juga yang
mengkader manusia-manusia Indonesia, sehingga memiliki karakter. sayangnya
lagi, pendidikan, baik sistem maupun pelengkapnya masih belum berhasil membuat
ini menjadi nyata. sekolah sebagai wadah penyampaian pendidikan, belum berhasil
membuat pendidikan menjadi pendidikan sesungguhnya, sekolah membatasi ruang
gerak-ruang gerak anak-anak Indonesia, membenarkan yang salah, dan menyalahkan
yang benar, anak-anak tidak dibiarkan menggunakan imajinasinya.
tapi jangan lupa masalah
pendidikan ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah sebagai organisasi yang
mengatur segalanya di negara ini, rakyat sebagai bagian dari negara ini juga
memiliki porsi untuk membantu keberjalanan sistem pendidikan yang ideal, mulai
dari keluarga, lebih dulu, lingkungan sekitar, baru porsi sekolah. bahkan
pendidikan paling melekat kepada seseorang anak itu adalah pendidikan dalam
keluarganya, baru kemudian sekolah dan lingkungannya. seperti kata Pak Anies
(lagi), education starts from home. be a prepared parent. negara
ini juga memiliki janji kemerdekaan tentang pendidikan yang tercantum pada
UUD 1945, yaitu salah
satunya ‘mencerdaskan kehidupan bangsa’.
maka mulai dari detik
ini juga, marilah masing-masing dari diri kita menyadarkan bahwa kita memiliki
peranan penting dari keberjalanan pendidikan di Indonesia, karena tiap-tiap
dari kita memiliki tanggung jawab, minimal dari ‘rumah’ kita masing-masing,
kemudian baru lingkungan sekitar.
juga yang mengkader
manusia-manusia Indonesia, sehingga memiliki karakter. sayangnya lagi,
pendidikan, baik sistem maupun pelengkapnya masih belum berhasil membuat ini
menjadi nyata. sekolah sebagai wadah penyampaian pendidikan, belum berhasil
membuat pendidikan menjadi pendidikan sesungguhnya, sekolah membatasi ruang
gerak-ruang gerak anak-anak Indonesia, membenarkan yang salah, dan menyalahkan
yang benar, anak-anak tidak dibiarkan menggunakan imajinasinya.
tapi jangan lupa masalah
pendidikan ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah sebagai organisasi yang
mengatur segalanya di negara ini, rakyat sebagai bagian dari negara ini juga
memiliki porsi untuk membantu keberjalanan sistem pendidikan yang ideal, mulai
dari keluarga, lebih dulu, lingkungan sekitar, baru porsi sekolah. bahkan
pendidikan paling melekat kepada seseorang anak itu adalah pendidikan dalam
keluarganya, baru kemudian sekolah dan lingkungannya. seperti kata Pak Anies
(lagi), education starts from home. be a prepared parent. negara
ini juga memiliki janji kemerdekaan tentang pendidikan yang tercantum pada
UUD 1945, yaitu salah
satunya ‘mencerdaskan kehidupan bangsa’.
maka mulai dari detik
ini juga, marilah masing-masing dari diri kita menyadarkan bahwa kita memiliki
peranan penting dari keberjalanan pendidikan di Indonesia, karena tiap-tiap
dari kita memiliki tanggung jawab, minimal dari ‘rumah’ kita masing-masing, kemudian
baru lingkungan sekitar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar